Cari

Wednesday, August 27, 2008

Friday, August 15, 2008

Go Green!


Darimana oksigen kita bernafas berasal? Jawabannya mungkin anak-anak kecil saja sudah tahu : sebagian besar dari fotosintesis tumbuhan.

Namun sadarkah kita bahwa jumlah tumbuhan, terutama pohon yang memiliki banyak daun untuk memproduksi oksigen kita berkurang terus menerus? Seberapa parah sih berkurangnya? Bila kita lihat di Kalimantan sebagai "jantung" hutan di Indonesia, saya minta Anda hapalkan baik-baik angka mengerikan ini : 6x ukuran lapangan sepakbola dalam 2 menit!

Bagaimana dengan konsumen terbesar oksigen yaitu manusia? Yang ada juga jumlah manusia bertambah terus! Pembakaran yang diperlukan untuk menjalankan roda kehidupan manusia meningkat tak terkendali. Kita mikir pendek aja deh... lalu kita mau nafas pake apa kalo jumlah oksigen kurang? Belum lagi pengaruh jelek dari pembakaran oksigen yang berlebihan itu... musim kemarau yang jauh lebih panjang dari musim hujan. Artinya? Kalo musim hujan banjirrr dan kalo kemarau kekeringaaan..

Ketika tiba-tiba pagi ini saya tersadar, langsung teringat dengan Luna Maya. Lho kok!? Iya, Luna Maya kan ikut program tanam pohon lewat Internet. Beritanya juga udah lama. Harga per-pohon $5,5, pohon kita ditanam dan dimaintain sama si Luna eh maksudnya WWF di Kalimantan. Kita juga bisa memonitor posisi dan kondisi si bayi pohon lewat Google Earth yang posisinya dikirim sama Luna.. ehm mybabytree.org ke email kita. Praktis juga ya. Ya buat yang sibuk cara gini paling gampang deh *jadi promosi*. Di rumah saya juga nyoba nanam pohon, tapi harga tanah yang mahal di Yogya sini, membuat lahannya cuma cukup buat 1 pohon mangga. Kenapa mangga ? Sebenarnya ada orang pinter yang bilang bahwa pohon bambu dapat menyerap emisi dan menghasilkan oksigen 35% lebih banyak dari pohon lainnya. Cuma istri saya memiliki persepsi jelek terhadap pohon bambu, yaitu dulu di kampung masa kecil do'i, pepohonan bambu adalah tempat masyarakat buang hajat :D.
Ayo deh manusia.. jangan egois, anak cucu kita juga butuh oksigen dan hidup yang sehat!

Thursday, August 14, 2008

Pengguna SQL-Server, Liat tempdb-mu!

Buat pengguna SQL-Server, khususnya admin/programer, cek file C:\Program Files\Microsoft SQL Server\MSSQL\Data\tempdb.mdf (atau folder default dimana data default SQL-Server diletakkan). File tempdb.mdf adalah file temporari dari sistem SQL-Server apabila server mendapat query yang melibatkan data yang kompleks. Yah semacam swap file gitu deh, untuk mengoptimalkan proses. Sayangnya, file ini bisa membengkak besar sekali. Di kantor saya pernah mencapai 32GB!. Kadang bingung juga, padahal sistem dalam kondisi idle (tidak ada koneksi ke server), kok ni file tidak dimampatkan lagi oleh SQL Server.

Apabila hal ini terjadi cara mengatasinya cukup mudah, restart saja SQL-Servernya. Hopla! file pun kembali berukuran sekitar 8MB saja. Anda bisa melakukan cek secara berkala ke file ini, atau lebih gampangnya ya diberi scheduling untuk merestart server di jam-jam biasanya idle.
Pembaca ada tanggapan atau menemui kasus seperti ini ??

Liga Super Indonesia... *sedih*

Banyaknya pertandingan yang digelar tanpa penonton karena daerah homebase yang tidak sama dengan klub asal adalah kenyataan yang pahit buat persepakbolaan negeri kita. Alih-alih ingin mewujudkan "MENUJU SEPAKBOLA INDUSTRI PROFESIONAL", standar yang diaplikasikan PSSI untuk pesertanya mengenai homebase terkesan dipaksakan.

Ambil contoh PSMS Medan yang harus pindah homebase di Gelora Bung Karno karena Stadion Teladan, Medan tidak memenuhi standar yang ditetapkan PSSI. OK, persyaratan stadion jadi terpenuhi. Namun, klub tersebut jadi kehilangan pemasukan tiket dan, yang paling penting, fanatisme pendukung sebagai dasar dukungan moril dan motivasinya. Sebaiknya nama PSMS diubah menjadi PSMS Jakarta atau PSMSJak.

Barangkali hanya di negara kita yang klubnya mau mengikuti kompetisi tanpa penonton sepanjang musim. Sungguh menggelikan :) Mudah-mudahan dari balik terali, sang ketua PSSI masih bisa menonton kondisi pahit ini.

Friday, August 1, 2008

Kabaret, Ketawa Mikir

foto : Tim Kabaret, dengan Limbik (paling kanan) sebagai tokoh favorit saya yang lucu, unik, punya inner-beauty tapi GARING

Tadi malam untuk kesekian kalinya MetroTV menayangkan Kabaret, sebuah pementasan teater di TV. Terus terang, saya agak bosan menontonnya. Saya pribadi memang belum pernah nonton teater langsung.. tapi rasanya aneh saja menonton pengemasan teater di televisi seperti ini. Mungkinkah karena saya belum bisa memahami letak point-of-interest-nya? Seperti dulu ketika saya belum bisa memahami musik ska? Atau memang tv-teater termasuk tontonan berat?

Sebagai penikmat komedi yang dapat menghibur kepenatan sehari-hari, lelucon-leluconnya sungguh kering (sekering ucup kelik.. lebih kering malah) untuk kelas orang yang mau melucu dan sayangnya hal itu diekspos terus-terusan dengan mimik wajah yang dilebih-lebihkan. Coba lihat audien yang hadir di sana, terlihat sedikit mereka yang mencoba tertawa sambil mikir.. tapi kebanyakan yang ndak bisa menangkap maknanya, ya gak tertawa!. Aduh, apakah mereka ingin mencerminkan dunia ini yang penuh sandiwara?? Bukankah keasyikan dari sebuah tontonan bersama adalah bisa tertawa bersama, sedih bersama, tegang bersama??? Sungguh unik kalo tidak bisa dibilang aneh bin ajaib :)

PS: Namun demikian, ada satu hal yang membuat saya masih sesekali pindah channel ke Metro yaitu edukasi politiknya dengan menonton lelucon ndak lucu tadi sebagai harga yang harus dibayar.