Cari

Wednesday, February 25, 2009

Tukang Pengeluh

Bener kata Ebong, pake Linux saya bener-bener pegel linux :). Sebagai seseorang yang datang dari negri Windows yang penuh kemanjaan, memakai Linux seperti masuk asrama tentara. Perlu rajin browsing ke forum-forum untuk cari info ini-itu.

Ada yang belum berubah semenjak dulu ketika muda (mang udah tua ya?) saya pernah coba-coba Linux juga. Interface 'berbau' Windows yang coba dibuat pengembang-pengembang Linux untuk membuat newbie-newbie seperti saya merasa nyaman masih belum bisa menggantikan kejelasan interface dari Windows. Alasannya saya kira karena Linux dibangun oleh banyak tangan, sehingga terkadang fungsi yang dibuat oleh seseorang menumpuk-i fungsi dari yang lain. Begitu juga support driver untuk peripheral-peripheral komputer, masih perlu jatuh-bangun untuk itu :)

Sebagai contoh untuk printer saya, belum tersedia driver resminya versi linux. Jadi setiap mau ngeprint saya harus main-main perintah di console :

[root@dedi dedi]# usb_printerid /dev/usb/lp0

agar si printer (HP Laserjet 1020) mau nyambung itupun masih harus main-main saklar on-off di printernya. Yah,

Untuk set IP-Address dan koneksi Internet (gateway, DNS), sayapun harus mengedit sendiri file konfigurasinya dengan perintah:

[root@dedi dedi]# vi /etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-Intranet

kemudian merestart network: service network restart.

Sementara itu fasilitas yang disediakan di menu system window Gnome gak berkutik (bahkan ada bugnya!) untuk mengedit file konfigurasinya.. bahkan kelihatannya konflik dengan Network Manager.

...

Teman-teman seperjuangan di kantor sudah berjatuhan dan satu persatu kembali ke Windows. Tinggal saya satu-satunya prajurit yang tersisa. Saya mungkin agak bisa memaklumi rekan-rekan gak kuat untuk ngelanjutin perjuangan ini. Karena kemudahan dan kenyamanan (sekaligus kerentanan dari virus hehe) yang diberikan Desktop Ms. Windowsnya sudah terlanjur menjadi kebiasaan buat mereka. Sampai saat ini, Alhamdulillah, saya masih bisa survive dalam keterbatasan ini... bebas dari virus dan merasa keren hahaha hmmm nyaman :)

*sambil melongo melihat temen-temen ngeprint dari driver printer resmi dengan cepat, maen CS, pakai Look@LAN, coding pake VB dan Delphi...*

Friday, February 6, 2009

Bagaimana Deepfreeze Bisa Ditembus Virus

Jawabannya : desktop.ini



File tersebut sejatinya adalah file setting windows untuk setiap folder yang dibuka di windows explorer. Contoh kecil, suatu folder bisa dikasih wallpaper, icon, warna-warni dst-dst. Belum tau caranya? Hehehe.. coba cari-cari ndiri di klik kanan pada suatu ruang kosong di dalam folder nanti ada kira-kira perintah customize this folder. Nah ubek2 deh di situ.

Nah, ternyata sekarang orang-orang yang keminter membuat virus mencoba mengeksploitasi celah ini. File tersebut diisi dengan perintah untuk menjalankan file lain yang merupakan skrip atau file induk program virus.

Trus apa hubungannya dengan DeepFreeze?
Yak, kejadiannya begini... DF kan diinstal hanya pada drive sistem (biasanya c), nah yang partisi data (atau d:) kan nggak tuh? Kejadiannya :
1. Komputer booting
2. Membaca sistem operasi (yang sudah 'diproteksi' DF).
3. DF mengambil alih handel baca-tulis harddisk
4. Komputer berjalan normal
5. Masuk windows
6. Anda buka windows eksplorer
7. Anda buka folder/drive data
8. Desktop.ini terbaca --> skrip virus dieksekusi --> sistem (dengan DF) terinfeksi.
9. Anda bekerja di bawah sistem yang terinfeksi dan siap menyebar dan menulari flashdisk dan file-file lainnya.

Lihat di sana, sistem operasi yang tersimpan di harddisk memang tetap clean. Setiap restart komputer kondisi awal juga memang clean. Tapi setiap kita buka folder data ya virus masuk.. walaupun sementara... sampai komputer di restart. Jadi tetap aja user pengguna berada dalam posisi kena virus.

Jadi gitu.. mudeng gak? hihihi mudah-mudahan.

Tuesday, February 3, 2009

Hidup Baru...

Perpisahan memang tak mengenakkan. Apalagi dengan sesuatu yang telah menemani saya selama selama lebih dari 10 tahun belakangan ini. Demi sesuatu yang saya rasa lebih baik untuk hidup saya, mulai kemarin, saya memutuskan untuk meninggalkan dia.

Seperti halnya kejadian sejenis, perpisahan kamipun bukan tidak menemui banyak tantangan. Mulai dari kerinduan karena saya selama ini telah nyaman bersamanya, sampai jatuh bangunnya saya dengan kondisi yang baru.


Selamat tinggal Wind*ws, begitu saya berucap terhadap operating system (OS) buatan Micr*soft yang tidak pernah saya beli namun telah saya gunakan bertahun-tahun. Bukan, bukan saya akan tidak mau menyentuhmu lagi. Namun ini adalah masalah komitmen, komitmen yang akan membuat saya merasa dalam posisi lebih nyaman, tenang, dan merdeka. Sekaligus penuh semangat.

Hehehe cukup sudah puitisnya. Ya para pembaca, saya sudah jenuh dengan si dia itu, apalagi perkembangan virus-virusnya karena vulnerabilitas dari sistemnya. Kemarin secara resmi, komputer kerja saya hapus sistem operasinya dan mulai menginstal Fedora Core 10, suatu distro dari Linux. Kenapa Fedora ? Gak tau juga, cuma ikut-ikutan aja. Jujur aja idenya dari Mr. BP yang menjadikan distro Fedora sebagai OS komputer rumahnya. Menurut logika saya, kalau suatu distro dipilih untuk dijadikan OS komputer rumah tentu ada aspek 'user-friendly' di sana, sesuatu yang dibutuhkan bagi newbie Linux seperti saya. Ya, mudah-mudahan saja benar. Dan ternyata gak juga wahaha. Saya mohon petunjuknya dari guru-guru dan linuxer semua. pls.. pls.. pls..

1. CD Distro saya pinjam dari teman sekantor saya cah_gardoe. Menurut dia, distro ini lengkapnya 6 CD, tapi 4 CD saja katanya sih sudah cukup. Setengah percaya saja saya turuti kata-katanya. Bismillah. Just install it baby yeah!
2. Boot from CD berjalan baik dan lancar. Configure harddisk. Buat root mountpoint "/" pada sda1 yang di windows terbaca C:. Sebagian 5GB dari C: tersebut yang saya jadikan partisi swap (kegedean gak ya). Format the partition! Good bye wind*ws!
3. Kemudian tibalah saat setting-menyetting. Milih-milih aplikasi.. Hmm.. inget kata-kata rian temen kosku dulu, kalo buat pemula yang penting jalan dulu. Pilih saja semua dan start!
4. Instalasi dimulai, wow modul yang akan diinstal sampai 1000 lebih! Saya tinggal komputer kerja saya dan nebeng di komputer temen yang lain yang sedang nganggur. Kebetulan pakainya UBuntu. Sambil berselancar mencoba merasakan nikmatnya interface GNomenya UBuntu.
5. Masalah kecil muncul. Ketika saya kembali ke komputer kerja, program installer meminta CD kedua. Tapi ya ampun, itu CD gak mau keluar. Gimana nih, apa program installer gak bisa melakukan unmount pada CDROM drive saya? Saya keluarkan senjata rahasia, klip berukuran standar yang diluruskan kakinya! Kemudian si klip malang itu saya colok-colok di lubang pembuka darurat pada CDROM drive. Berhasil juga! Dengan mengeluarkan suara-suara aneh karena perbuatan saya tadi termasuk pemaksaaan sementara dia masih berputar, si CD bisa dikeluarkan juga. Ketika CD kedua dimasukkan, awal-awal CDROM drive tidak mau membaca CD tersebut. Sepertinya ada sesuatu yang belum 'klik' pada mekaniknya. Saya coba dorong-dorong, cowel-cowel, pencet-pencet tu CDDrive. Beberapa saat kemudian, alhamduillah jalan juga!
6. No 5 diulang setiap ganti CD sampai CD #4
7. Instalasi selesai, setting password, user normal dll. Lancar!
8. Cek-cek sebentar, langsung ke bagian yang paling penting. Setting network untuk mendapatkan Internet akses! Bagian ini menjadi bagian tersulit dan terlama dalam kisah saya bersama Linux hari ini. Applet program untuk mengkonfigurasi network pada XWin tidak berjalan sesuai keinginan. Sebagai contoh ketika saya ketik NetMask 255.255.255.0, kalau di tekan tombol OK, berubah lagi mengikuti nilai IP Address gatewaynya.. Bener2 harus sabar!Cah_gardoe saya tanyai, apa Fedora Core 9 seperti ini juga? Katanya tidak. Woalah, apakah ini beta version ya?? Kok bug ada di bagian aplikasi sepenting ini ini.
9. Jam 15.38 sore (lewat 1jam 8menit dari waktu jam pulang kantor), saya berhasil mengakses Internet untuk pertama kalinya lewat Linux. Alhamdulillah, selamat, Ded!